Setelah sempat menyapa pendengar lewat single “Cerah Hari Ini”, unit dance-punk veteran asal Jakarta, Agrikulture, kembali melanjutkan langkahnya di dunia musik. Kali ini mereka merilis lagu terbaru berjudul “Terang Di Gelap Cahaya”, sebuah karya yang kembali menegaskan identitas Agrikulture sebagai band yang konsisten memadukan groove, ironi, dan refleksi kehidupan urban dalam musik yang tidak hanya mengajak tubuh bergerak, tetapi juga memancing pikiran.
Sejak awal kemunculannya di skena musik independen Indonesia pada awal 2000-an, Agrikulture memang dikenal sebagai kelompok yang punya pendekatan khas. Lewat album Dawai Damai (2007) dan Terang Benderang (2011), mereka membangun reputasi sebagai band yang mampu menghadirkan musik danceable namun tetap artistik dan reflektif. Dua dekade berlalu, arah musikal mereka tetap terasa relevan dengan dinamika kehidupan kota yang terus berubah.
Dalam “Terang Di Gelap Cahaya”, Agrikulture kembali menonjolkan kekuatan groove sebagai fondasi utama. Terinspirasi dari semangat dance-punk dan post-punk ala Talking Heads hingga The Rapture, mereka tetap menjadikan bass dan ritme sebagai penggerak utama lagu. Namun latar belakang para personelnya yang juga dekat dengan kultur DJ membuat eksplorasi mereka tidak pernah berhenti pada satu gaya saja.
Elemen funk, disco, hingga new wave diracik menjadi sebuah lanskap musik yang repetitif tetapi tetap terasa hidup. Lapisan ritme yang terus berputar menciptakan atmosfer yang mengajak pendengar larut dalam alunan beat, sekaligus menyimpan emosi yang terasa halus di baliknya.
Berbeda dengan “Cerah Hari Ini” yang menangkap optimisme secara spontan, lagu terbaru ini hadir dengan sudut pandang yang terasa lebih dewasa. “Terang Di Gelap Cahaya” lahir dari kegelisahan yang sangat personal. Ia berbicara tentang pencarian akan jawaban, ketenangan, kenyamanan, hingga kebahagiaan, tanpa benar-benar tahu harus memulai dari mana.
Alih-alih menyuarakan keresahan dengan cara yang meledak-ledak, Agrikulture justru membiarkannya hadir secara lebih tenang melalui nada dan ritme. Musik menjadi medium paling jujur ketika kata-kata terasa tidak cukup untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakan.
Di dalamnya juga terselip semacam harapan sederhana, seperti pesan yang dilepaskan ke ruang luas. Ibarat metafora message in a bottle ala The Police, lagu ini seperti sebuah pesan yang dilempar ke lautan luas, dengan harapan suatu saat akan ada yang menemukannya.
Hal itu terasa dalam penggalan lirik “Dengarkan kami sebar suara ke seluruh penjuru dunia”. Bagi Agrikulture, kalimat tersebut bukan sekadar baris lirik, melainkan refleksi dari kebutuhan paling dasar manusia untuk terhubung satu sama lain. Di era digital seperti sekarang, sebuah lagu bisa melintasi batas geografis dan menjangkau siapa saja, di mana saja.
Secara lirik, Agrikulture tetap mempertahankan gaya observasional yang sudah lama menjadi ciri mereka. Bahasa yang digunakan terasa lugas, kadang ironis, namun tidak terjebak pada romantisasi emosi yang berlebihan.
Pilihan kata yang minimalis juga menjadi bagian dari pendekatan mereka. Dalam kondisi ketika seseorang terlalu resah, sering kali yang muncul justru keheningan. Speechless. Tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dan di tengah kebisingan dunia hari ini, panjang lebar pun belum tentu benar-benar didengar.
“Lagu ini adalah pengingat tentang bertahan dan menemukan makna terang versi masing-masing, bahkan ketika cahaya terasa samar,” ungkap Agrikulture.
Pada akhirnya, “Terang Di Gelap Cahaya” tidak mencoba menawarkan solusi besar ataupun janji yang terlalu muluk. Lagu ini hanya menyuarakan harapan yang sangat manusiawi: menemukan sedikit terang, bahkan ketika berada di ruang yang terasa gelap tanpa cahaya.
Single “Terang Di Gelap Cahaya” akan tersedia di berbagai platform streaming digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.


